Aku yang sangat pendiam masuk SMP. Tempat yang sangat asing, terpisah dari teman-teman dekatku. Aku sendirian di kelas. Entah sejak kapan aku mulai akrab dengan sekumpulan cowok. Semuanya sangat baik padaku. Aku bisa tertawa dan tidak merasa kesepian. Tanpa mereka aku bukan siapa-siapa. Karena mereka aku menjadi gadis riang, tidak terlalu pendiam dan penakut seperti dulu. Walau aku jadi sedikit tomboi dan nakal tapi aku tidak merasa salah berteman dengan mereka.
Hingga suatu hari aku menyadari, aku jatuh cinta untuk pertama kalinya pada salah satu dari mereka. Namanya Ahya, dia pintar dalam bidang olahraga apapun. Yang paling memikat hatiku adalah kebaikannya. Setiap hari kami mengobrol lewat telepon sampai malam. Di sekolah kami selalu bersama, hingga suatu hari dia menggenggam tanganku tanpa diketahui siapa pun. Aku sungguh sangat senang dan berpikir bahwa dia juga menyukaiku. Aku pun berusaha menjadi gadis yang sempurna baginya.
Hingga akhirnya aku memberanikan diri buat menyatakan perasaanku padanya. Aku berpikir dia akan menerima aku. Tapi ternyata aku salah... Dia sama sekali tidak melihat aku sebagai seorang perempuan. Dia hanya melihatku sebagai teman. Itu sangat menyakitkan. Setelah kejadian itu dia tak pernah berbicara padaku, no teleponnya pun dia ganti tanpa memberitahu aku, melihat padaku juga dia hindari sebisanya.
Pada akhirnya aku tidak bisa memperbaiki hubungan dekat kami yang sudah rusak ini. Tapi aku tetap tidak bisa melupakan dia begitu saja. "My First Love is my regret. He changed my life became more colourful. I fell in love with him until now I can't forget this feeling. But because this feeling I broke our friendship. That is my regret until now."
